Siapakah Salman Abdulaziz Al Saud Raja Saudi Yang Baru ?


Salman bin Abdulaziz Al Saud 

Raja Saudi Yang Baru Salman Abdulaziz Al Saud berjanji lanjutkan kebijakan mendiang Raja Abdullah, kondisi kesehatan Salman yang tidak prima menjadi kekhawatiran bagi kerajaan 

Pasca mangkatnya Raja Abdullah pada 23 Januari 2015, kekuasaan Saudi dipegang oleh Salman bin Abdulaziz Al Saud. Salman, adalah Raja Arab Saudi ketujuh sekaligus menjabat sebagai ‘Penjaga Dua Kota Suci’. 

Salman bin Abdul Aziz menikah sebanyak tiga kali. Istri pertama, Sulthanah binti Turki al-Sudairi meninggal 2011di usia 71 tahun. Dari pernikahan ini, Salman dikaruniai 5 orang putra dan satu orang putri: Pangeran Fahd, Pangeran Ahmed, Pangeran Sultan, Pangeran Abdul Aziz, Pangeran Faisal, dan Putri Hussa. 

Anaknya dari pernikahan keduanya dengan Sarah binti Faisal al-Subai’ai adalah Pangeran Saud. Anak-anaknya dari pernikahan ketiganya dengan Fahdah binti Falah bin Sultan al-Hithalayn adalah Pangeran Muhammad, Pangeran Turki, Pangeran Khalid, Pangeran Nayif, Pangeran Bandar, dan Pangeran Rakan. 

Pangeran Fahd dan Ahmad telah meninggal karena serangan jantung. Sedang anak keduanya, Sultan bin Salman menjadi orang Arab dan anggota kerajaan pertama yang terbang ke luar angkasa, Discovery pada bulan Juni 1985. 

Sultan bin Salman merupakan Ketua Saudi Commission for Tourism and Antiques (SCTA). Abdul Aziz bin Salman menjadi wakil menteri perminyakan sejak tahun 1995. Faisal bin Salman adalah gubernur provinsi Madinah. Muhammad, adalah penasehat pribadinya di kementerian pertahanan dan di Crown Prince Court. Turki bin Salman menjadi ketua Penelitian dan Marketing Group Arab Saudi sejak Februari 2013, menggantikan kakaknya Faisal bin Salman. 

Pendidikan dan Karir Politik 

Sebagaimana anak-anak Raja Abdul Aziz alu Saud yang lain, Salman bin Abdul Aziz yang pernah menjalani operasi tulang belakang di Amerika dan terserang stroke ini semenjak kecil mendapat pendidikan di ‘sekolah khusus para pangeran’. 

Di sana ia mempelajari ilmu agama dan sains modern. Sekolah ini dibangun oleh Raja Abdul Aziz untuk memfasilitasi pendidikan anak-anaknya sebagai kader penerus kepemimpinan kerajaan. Tradisi sekolah seperti ini telah dipraktikkan oleh para khalifah Umayyah, Abasiyah, hingga kekhalifahan Utsmani. 

Salman pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Umara ketiga direkturnya kala itu dipegang Syeikh Usamah Khayyath, Imam dan Khatib Masjidil Haram Makkah Al Mukarramah. Bahkan dikabarkan berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia 10 tahun. Sebagai wujud syukur kala itu, ia pernah mengadakan jamuan besar pada hari Ahad, 12/08/1364 Hijriyah. 

Salman bin Abdul Aziz diangkat menjadi gubernur Provinsi Riyadh pada tanggal 4 Februari 1963. Masa jabatannya berlangsung selama empat puluh delapan tahun (48 tahun) sejak tahun 1963 -2011. 

Sebagai gubernur, ia memberikan kontribusi untuk pengembangan Riyadh dari kota menengah ke kota besar metropolitan. Ia meningkatkan pariwisata, proyek-proyek penting, dan investasi asing di dalam negaranya. Dalam waktu 48 tahun, Pangeran Salman berhasil mengubah kota padang pasir, Riyadh, yang terisolasi menjadi kota yang dipadati gedung-gedung pencakar langit, universitas, dan jaringan makanan cepat saji. 

Selama menjadi gubernur, ia dianggap berhasil mengamankan investasi asing bagi ibu kota Arab Saudi itu. Ia juga membuka hubungan geopolitik dan ekonomi dengan Barat. Ia mendirikan Universitas King Saud di Riyadh, yang kini dianggap menjadi salah satu yang terbaik di Arab Saudi. 

Pada 5 November 2011, Salman diangkat menjadi menteri pertahanan menggantikan saudara kandungnya yang menjadi putra mahkota, Pangeran Sultan bin Abdul Aziz. Pada hari yang sama, Pangeran Salman juga terpilih sebagai anggota Dewan Keamanan Nasional (NSC). 

Pengangkatannya sebagai menteri pertahanan karena dianggap banyak mengedepankan perdamaian dan diplomasi. Selain itu, ia aktif berurusan dengan masalah internal keluarga kerajaan dan menengahi perselisihan di antara mereka. Kepandaiannya dalam diplomasi juga membuat ia disegani di kalangan suku-suku Arab Saudi. Koran Asharq al-Awsat dikutip Associated Press, mengatakan, Salman memiliki hubungan yang sangat luas dengan suku-suku di Arab Saudi dan pengaruhnya semakin memperluas jaringan bisnis keluarga kerajaan. 

Setelah jalan diplomasi dianggap buntu, Pangeran Salman juga tidak segan menggunakan kekuatan militer. Contohnya ketika Arab Saudi ikut terlibat secara militer dalam melakukan serangan udara terhadap ISIS pada tahun 2014 kemarin. 

Putra Mahkota 

Pada 18 Juni 2012, Pangeran Salman diangkat sebagai Putra Mahkota Arab Saudi tak lama setelah wafatnya saudaranya, Putra Mahkota Nayif bin Abdul Aziz. Dan sekaligus didaulat sebagai wakil perdana menteri. Pencalonannya sebagai putra mahkota dan wakil perdana menteri dianggap sebagai sinyal bahwa reformasi Raja Abdullah akan terus berkembang. Orang-orang pun menilai bahwa Pangeran Salman mengambil pendekatan yang lebih diplomatik terhadap tokoh oposisi, berbeda dengan bangsawan Arab Saudi lainnya. Mereka juga berpendapat bahwa Pangeran Salman sama seperti Raja Abdullah, sebagian besar fokus pembangunan pada peningkatan ekonomi bukan pada perubahan politik. 

Pada tanggal 27 Agustus 2012, dewan kerajaan mengumumkan Pangeran Salman bertanggung jawab atas urusan negara karena Raja Abdullah mulai sakit-sakitan. Untuk mendekatkan hubungannya dengan rakyat, Pangeran Salman meluncurkan akun twitter @KingSalman pada tanggal 23 Februari 2013. 

Setelah Raja Abdullah bin Abdul Aziz wafat pada dini hari tanggal 23 Januari 2015, dewan kerajaan menunjuk Pangeran Salman sebagai raja baru Arab Saudi menggantikan saudara tirinya tersebut. 

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Salman –yang mengendalikan salah satu media terbesar di dunia Arab—ini mengatakan akan melanjutkan semua kebijakan para pendahulunya yang tepat. 

“Kami akan melanjutkan berbagai kebijakan yang dianut Arab Saudi sejak negara ini didirikan,” kata Raja Salman dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah. 

Pidato ini disampaikan beberapa jam setelah anggota keluarga kerajaan berusia 78 tahun ini diangkat menjadi raja Saudi yang baru. Di sisi lain, kesehatan Salman yang tidak prima masih menjadi kekhawatiran bagi kerajaan.* 

This article originally appeared in : Mengenal Raja Saudi Yang Baru Salman Abdulaziz Al Saud | hidayatullah.com | Ahad, 25 Januari 2015 - 09:52 WIB

READ MORE - Siapakah Salman Abdulaziz Al Saud Raja Saudi Yang Baru ?

King Abdullah passes away ; Prince Salman named king and Prince Muqrin crown prince


Arab News 

Custodian of the Two Holy Mosques King Abdullah died on Friday following a short illness. Crown Prince Salman has been named the new king with Prince Muqrin crown prince, according to a Royal Court statement.

King Abdullah was hospitalized in December suffering from pneumonia and had been breathing with the aid of a respirator.

King Salman said King Abdullah died at 1 a.m. on Friday. “With deep sorrow we announce the death of King Abdullah,” said the new king in the statement issued by the Royal Court, adding that the funeral prayers would take place after Asr prayer at Imam Turki bin Abdullah Mosque in Riyadh on Friday.

King Salman and Crown Prince Muqrin will receive the oath of allegiance from the people of Saudi Arabia at his palace in Riyadh after Isha prayer.

The smooth succession indicates stability in Saudi Arabia, according to observers.

Since the death in 1952 of King Abdul Aziz, the founder of Saudi Arabia, the throne has systematically passed down to his sons.

King Salman, credited with transforming Riyadh during his half-century as governor, has a reputation for austerity, hard work and discipline.

Born on Dec. 31, 1935, King Salman is the 25th son of King Abdul Aziz. He was appointed governor of Riyadh province at the age of 20. He was appointed minister of defense in 2011.

This article originally appeared in : King Abdullah passes away | arabnews.com | Published — Friday 23 January 2015 ; Last update 23 January 2015 2:33 pm

READ MORE - King Abdullah passes away ; Prince Salman named king and Prince Muqrin crown prince

Saudi Arabia's King Abdullah Dies In Hospital


Saudi Arabia's King Abdullah Dies In Hospital - Crown Prince Salman ascends to the throne and pledges to continue his predecessors' policies. 

Saudi Arabia's King Abdullah bin Abdulaziz has died in hospital after almost a decade in power and his half-brother Crown Prince Salman has succeeded to the throne. 

A statement from Saudi Arabia's royal court confirmed the monarch - believed to be aged 90 or 91 - passed away at 1.00am local time. 

Abdullah, who took power in 2005 following the death of King Fahd, is expected to be buried later today following afternoon prayers. 

"With great sadness and mourning His Royal Highness Crown Prince Salman bin Abdulaziz al-Saud, and all members of the family and the nation, express condolences for the Custodian of the Two Holy Mosques King Abdullah bin Abdulaziz al-Saud," the statement said. 

The late monarch's half-brother Moqren has been confirmed as the new Saudi Crown Prince. 


Gallery: Pictures: Saudi Arabia's King Abdullah 





Gallery: Pictures: Saudi Arabia's King Abdullah 

The public will be invited to pledge allegiance to the new monarch and Crown Prince at the royal palace later today. 

Abdullah had run the country as de factor leader since the mid-1990s after his predecessor suffered a debilitating stroke. 

He was admitted to hospital on 31 December suffering pneumonia and the royal court announced that he was breathing with the aid of a tube. 

Sky's Middle East correspondent Sherine Tadros said the death comes after weeks of speculation and rumour about the monarch's health. 

"He's been ill for several weeks. He was admitted to hospital in December with a liver infection and there have been rumours over the past few weeks that he had died," she said. 

His successor King Salman, 79, became Crown Prince in June 2012 after the death of Prince Nayef bin Abdulaziz. 

He has represented Abdullah at recent public events due to the late king's ailing health. 

Saudi King Abdullah Dies 

In a televised speech after the death was announced he vowed to continue the policies of his predecessors. 

"We will continue adhering to the correct policies which Saudi Arabia has followed since its establishment," King Salman said. 

"The Arab and the Islamic nations are in dire need of solidarity and cohesion," he added. 

World leaders have paid tribute to Abdullah, who encouraged reforms to the oil-rich kingdom including greater freedom for women and economic deregulation. 

During his reign, Abdullah worked to counter the influence of Saudi Arabia's chief rival Iran. 

On hearing of his death, Iran offered condolences and said Foreign Minister Mohammad Javad Zarif would travel to Riyadh for an "official ceremony".. 

Abdullah and his fellow Sunni Arab monarchs also staunchly opposed the wave of pro-democracy uprisings across the Middle East since 2011. 

Saudi King Abdullah's Legacy 

Saudi Arabia has been among several Gulf countries taking part in a US-led air campaign against Islamic State. 

His nation also unflinchingly led Gulf countries in ignoring calls by other producers to cut oil output to curb the sliding price of crude. 

He also launched projects to build new economic cities, universities and high-speed railways. 

US President Barack Obama expressed his condolences in the wake of the death and hailed Abdullah's "steadfast and passionate belief" in Saudi-American relations. 

"As a leader, he was always candid and had the courage of his convictions," Mr Obama said in a statement. 

"One of those convictions was his steadfast and passionate belief in the importance of the US-Saudi relationship as a force for stability and security in the Middle East and beyond. 

"The closeness and strength of the partnership between our two countries is part of King Abdullah's legacy." 

This article originally appeared in : Saudi Arabia's King Abdullah Dies In Hospital | sky.com | 10:20, UK, Friday 23 January 2015 


READ MORE - Saudi Arabia's King Abdullah Dies In Hospital

Raja Abdullah bin Abdulaziz Meninggal Dunia Pada Usia 90 Tahun


Televisi nasional Arab Saudi mengumumkan bahwa Raja Abdullah meninggal dunia pada usia 91 tahun. Pengumuman yang dibuat pada Jumat (23/1) dini hari ini, menyatakan bahwa suadara laik-laiki dari Raja Abdullah, Pangeran Salman akan menggantikan posisinya sebagai raja Arab Saudi.

Sebelum pengumuman, TV Saudi menayangkan doa-doa dari ayat suci Al-Quran yang memberikan sinyal bahwa ada berita duka dari keluarga kerajaan. 

Raja Abdullah, meninggal setelah sebelumnya dirawat di rumah sakit selama beberapa pekan karena menderita infeksi paru-paru.

Raja Abdullah 

Seperti dikutip dari BBC, Raja Abdullah sendiri diangkat menjadi raja pada tahun 2005, namun sering menderita masalah kesehatan beberapa tahun belakangan.

Dalam kiprahnya Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz yang merupakan sekutu kuat Amerika Serikat (AS) berusaha untuk memodernisasi kerajaan Muslim ultrakonservatif dengan reformasi signifikan tersebut dilaporkan meninggal pada usia 90 tahun. Abdullah yang lahir di Nejd, Riyadh akan berusia 91 tahun 1 Agustus 2015 mendatang.

Daily Mail, Jumat (23/1) melaporkan, pihak Kerajaan Arab Saudi yang berada di rumah sakit mengkonfirmasi kematian Raja Abdullah yang dirawat di King Abdulaziz Medical City sejak Desember lalu. 

Dia sudah menjalani serangkaian operasi untuk berjuang melawan penyakit pneumonia. Saudara tiri Raja Abdullah, Salman yang kini menjadi raja, menyatakan, kematian saudaranya tersebut terjadi pada Jumat (23/1) pagi waktu Arab Saudi.

Sebuah pernyataan resmi menyatakan, "Yang Mulia Salman bin Abdulaziz Al Saud dan semua anggota keluarga dan bangsa ini meratapi Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah bin Abdulaziz, yang meninggal tepat pada 1:00 pagi ini. "

Abdullah, yang lahir pada 1923, telah memerintah Arab Saudi sebagai raja sejak tahun 2006. Tetapi, ia mengendalikan negara secara de facto selama satu dekade, setelah pendahulunya Raja Fahd menderita stroke.

Kini, Raja Salman yang berusia 79 tahun, dianggap sebagai putra mahkota, dan menteri pertahanan sejak 2012. Dia adalah gubernur provinsi Riyadh selama lima dekade sebelum itu.

This article originally appeared in : Raja Abdullah Meninggal Dunia di Usia 90 Tahun | repuplika.co.id | Jumat, 23 Januari 2015, 06:52 WIB

READ MORE - Raja Abdullah bin Abdulaziz Meninggal Dunia Pada Usia 90 Tahun

Raja Arab Saudi Abddullah bin Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Saud


Raja Arab Saudi Abddullah bin Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Saud, diberitakan oleh media-media Arab, meninggal setelah beberapa lama mendapatkan perawatan medis, Jum'at, 23/1/2015.

Pernyataan resmi Kerajaan Saudi, menyatakan, “Dengan kesedihan yang mendalam, Pangeran Salman bin Abdul Aziz dan seluruh anggota keluarga Kerajaan berbelasungkawa atas meninggalnya "Pelayan Dua Kota Suci", Raja Abdullah bin Abdul Aziz pada pukul 01:00 Jumat dini hari bertepatan pada tanggal 3 Rabiul Akhir 1436 H, tutur pihak Kerajaan dalam pernyataannya.

Dalam pernyataan itu, shalat jenazah Raja Abdullah bin Abdul Aziz dilaksanakan pada Jum'at sore, setelah Shalat Ashar di Masjid Turki bin Abdullah kota Riyadh, ibukota Saudi Arabia.

Berdasarkan keputusan raja nomor 86 tanggal 5 Jumadal Tsani 1435 H, Raja Abdullah bin Abdul Aziz mewasiatkan bahwa dengan meninggalnya Abdullah yang akan menggantikannya adalah Pangeran Salman bin Abdul Aziz sebagai raja.

http://www.voa-islam.com/photos5/kere-jemel.jpg

Arab Saudi dikenal sebagai sekutu dan pendukung utama Barat, khususnya Amerika Serikat. Arab Saudi menjadi tulang punnggung Amerika, saat berlangsung era ‘Perang Dingin’, antara Soviet dan Amerika Serikat.

Bahkan, negara kerajaan yang membelot dari Khilafah Otsmani itu memberikan dukungan kepada Amerika saat menghadapi invasi Soviet ke Afghanistan, karena Arab Saudi sudah dalam ‘genggaman Amerika’.

Saudi bukan ingin menyelamatkan negeri Muslim Afghanistan, tapi lebih mendukung Amerika Serikat yang ingin mengalahkan Soviet. Kerjasama antara Arab Saudi dan Amerika terus berlangsung sampai hari ini, tanpa batas.

Saat Saddam Husien menyerang Kuwait, kemudian Presiden George Walker Bush Sr, membela Kuwait, dan melakukan invasi ke negara Teluk itu, dan mengerahkan pasukannya dalam skala besar. Perang menghancurkan Irak. Namun, perang itu belum usai, dan terus berkecamuk.

Tahun 2001, pasca serangan ke Gedung WTC, 11 September, di mana Amerika selesai menghancurkan Taliban dan menghancurkan kekuasannya, Amerika Serikat terus melangsungkan perang ke Teluk dengan menyerang Irak. Karena, menurut laporan CIA, Irak dan Saddam dituduh memiliki senjata pemusnah massal (WMD).

Serangan di era George Bush Jr ini, bertujuan menggulingkan Presiden Irak Saddam Husien. Arab Saudi dibelakang Amerika Serikat meluluh-lantakkan Irak. Kemudian, Saddam Husien mati ditiang gantungan oleh tangan Amerika.

Jutaan orang menjadi pengungsi, dan ratusan ribu Muslim Irak tewas. Negeri ‘1001’ yang pernah menjadi pusat peradban Islam itu, hancur berkeping. Sesudah itu, kekuatan Syi’ah memegang kekuasaan di Irak. Dengan menghancurkan kaum Sunni, yang hidup di negeri itu. Semua kejahatan Amerika dan Syi’ah itu, tak terlepas dari dukungan Arab Saudi.

Saat berlangsung kekacauan di Suriah, dan usaha-usaha dari kelompok-kelompok Sunni di Suriah ingin mengakhiri rezim Syi’ah Bashar al-Assad, yang sudah terlalu banyak menumpahkan banyak darah Muslim Sunni itu, Arab Saudi justru tidak berpihak kepada para pejuang Islam, seperti Jabhah al-Nusrah termasuk ISIS.

Arab Saudi bersama dengan 70 kekuatan koalisi memerangi semua kekuatan yang ingin memerangi rezim Syi’ah Bashar al-Assad dan rezim Syi’ah Nuri al-Maliki yang sekarang digantikan oleh Haidar al-Abadi.

Arab Saudi menjadi tulang punggung dalam 70 koalisi Negara Barat dan Arab, yang sekarang terus menumpahkan darah Muslim, karena kelompok ISIS dan lainnya, sudah diberi ‘cap’ oleh Barat, Amerika Serikat, Eropa dan Zionis, sebagai ‘teroris’.

Amerika Serikat bersama 70 negara, termasuk Arab Saudi, sekarang fokus, mengerahkan seluruh kekuatannya menghadapi ISIS, dan kelompok-kelompok Gerakan Islam, yang sudah diberi ‘stempel’ sebagi teroris, militan, ekstrimis, dan fundamentalis.

Negara-negara Arab seperti Arab Saudi, mempunyai kepentingan ikut bersama dengan negara-negara Barat lainnya, menghancurkan ISIS, karena mereka merasa takut kekuasaannya akan terancam. Sehingga, mereka melakukan apa saja, bersama dengan Barat menghancurkan ‘Islamiyyun’.

Inilah yang sangat mengkawatirkan bagi masa depan Islam. Umat Islam dan Muslim,bukan hanya menghadapi kafir musyrik (Yahudi dan Nasrani), tapi menghadapi para pemimpin Arab yang munafiq dan haus kekuasaan.

Betapa Arab Saudi sebagi negara ‘petro dollar’ kekayaannya hanya digunakan mendukung kepentingan Barat, Amerika, Eropa dan Zionis yang terus melakukan penghancuran terhadap Muslim di negeri-negeri Muslim. Tidak ada jeda waktu perang yang mereka jalankan sampai hari ini.

Raja Abdullah menurut berbagai sumber menggelontorkan miliaran dollar kepada Marsekal Abdul Fattah al-Sisi, menggulingkan Presiden Mesir Mohamad Mursi. Mursi dipilih secara bebas rakyat Mesir, melalui sebuah pemilu.

Sesudah itu, al-Sisi membantai ribuan pendukung Mursi. Al-Sisi juga memanjarakan puluhan ribu anggota dan pemimpin Ikhwan, dan mereka menghadapi malapetaka dalam penjara dengan berbagai penyiksaan.

Sebuah sumber intelijen menyebutkan agresi militer Zionis-Israel ke Gaza merupakan konspirasi antara Mesir, Arab Saudi, Emirat Arab (UEA), dan Zionis-Israel. Sebelum berlangsung agresi militer Israel, akhir 2014, di dahului pertemuan antara kepala intelijen Arab Saudi, Pangeran al-Turki dengan kepala Mossad.

Agresi militer Zionis ke Gaza itu, tujuannya melumpuhkan kekuatan militer Hamas, yaitu Brigade Izzuddin al-Qassam.Namun, usaha Zionis itu gagal, dan tidak berhasil menghancurkan Hamas.

Zionis-Israel sesudah sebulan menyerang dengan kekuatan udaranya, kemudian secara sefihak Perdana Israel, Benyamin Netanyahu mengumumkan gencatan senjata secara sefihak.

Menurut berbagai sumber menyebutkan bahwa dalam Konferensi Pembangunan 'Gaza' di Kairo, belum lama, Negara-negara Arab menyanggupi bantuan puluhan miliar dollar untuk membangun kembali Gaza, yang luluh-lantak. Tapi, negara-negara Arab, minta syarat, yaitu Hamas, "TIDAK BOLEH MENYERANG ZIONIS-ISRAEL". Hamas menolak syarat itu.

Arab Saudi bukan hanya mendukung Amerika Serikat melawan kekuatan-kekuatan Islam yang sudah diberi lebel ‘radikal, ekstrimis, militant, fundamentalis, dan teroris’, tetapi ulama-ulama yang memiliki kecenderungan kepada ‘Harakah Islamiliyah’ ikut diberangus.

Bahkan, Arab Saudi bertindak lebih keras lagi, siapapun warga Arab Saudi yang pergi ke Suriah, kembali ke Saudi, diancam dengan hukuman penjara selama 20 tahun.

Arab Saudi atau Abdullah, betapapun telah mendapatkan gelar sbagai ‘Khadimul Haramain’ (Pelayan dua kota suci), Makkah dan Madinah, tetapi yang sangat ironi, terlibat langsung dalam penghancuran terhadap Muslim yang ingin menegakkan ‘al-Islam’ sebagai dinul haq.

Sekarang, bersamaan dengan kematian Raja Abdullah, dia menjadi saksi nyata kehancuran Muslim di berbagai negara, dan ini tidak terlepas dari peran Raja Abdullah. Bahkan, Yaman dibiarkan oleh Arab Saudi dicaplok oleh Syi'ah Houthi. Ini hanya karena tindakan Amerika Serikat yang melarang Arab Saudi mendukung kelompok yang anti Syi'ah di Yaman.

Barangkali yang patut dikenang sepanjang sejarah, hanyalah sosok Raja Faisal, pemimpin Kerajaan Arab Saudi, yang sangat mulia ini, bisa mendapatkan julukan sebagai ‘Khadimul Umah’, karena betapa besarnya perhatian kepada umat Islam di seluruh dunia.

Ketika, Zionis-Israel menyerang negara-negara Arab, saat perang tahun l973, dan langsung Raja Faisal mengumumkan tindakan embargo minyak terhadpa semua negara penyokong. Amerika Serikat mengalami krisis minyak. Ekonomi hampir ‘collapse’ (ambruk), antrian bahan bakar minyak panjang di mana-mana. Amerika menghadapi krisis.

Kemudian, Raja Faisal dibunuh oleh keponakannya sendiri, yang baru pulang dari Amerika Serikat. Ini hanya satu pekerjaan CIA. Tapi, peristiwa ini tidak pernah diingat lagi oleh Muslim yang hidup di Arab Saudi, atau negara-negara Arab, dan mereka tetap setia dengan Amerika Serikat, dan menjadi budaknya.

Sungguh jutaan Muslim mati di tangan para penguasa Muslim. Kekuasaan dan kekayaan yang berlimpah bukan untuk berkhidmat kepada al-Islam, dan melindungi pemeluknya, justru digunakan membunuhi mereka. Wallahu’alam. ( mashadi1211@gmail.com )

This article originally appeared in : Kematian Raja Arab Saudi Abdullah dan Kehancuran Dunia Islam | voa-islam.com | Jum'at, 2 Rabiul Akhir 1436 H / 23 Januari 2015 09:26 wib

READ MORE - Raja Arab Saudi Abddullah bin Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Saud

Jokowi, Mega, and KPK


It's hard to argue against the notion that there are common interest competitions on current Jokowi’s government. It began from the selection of cabinet; the scent of interest competition has been felt.

All were related to the inclusion of Center Financial Transaction Reports and Analysis Center (PPATK) and the Corruption Eradication Commission (KPK) to screen minister candidates. As a result, several names proposed by political party were ruled out. At that time, some say, involving the Commission on the selection is a Jokowi's smart way to deny political parties ministerial candidates.

On the other hand, ahead of the announcement of the minister, suddenly it was appeared another interesting story that worth to be observed. Maruarar Sirait who had been summoned to the Palace and distributed ministerial white color clothe, dropped in the last second from ministers list. Logically, it is impossible to say that the deletion is done purely by Palace initiative.

It’s too cruel to imagine if the Palace give ministerial clothes to a candidate, but at the last hours, the person who shared it to be deleted. It may be there is other 'Palace' out of Jalan Istana Merdeka which affect the decision.

For many people, the real Palace located at Jalan Teuku Umar. Indeed, since the beginning of his presidency, Jokowi was seen as a president who cannot be separated from the shadows of the chairman of supporting political parties, especially the PDI-P.

All of this assumption was related to a late political speech to determine Jokowi as a PDIP presidential candidate, in May 2014. Here are some quotes of Chairman of PDIP Megawati Sukarnoputri speech, "Mr. Jokowi, you are made as a candidate, but you are the party officials who should run the task of the party."

After the speech, Jokowi's political opponent, like Fahri Hamzah, directly labeled Jokowi as a puppet president controlled by other. But is Jokowi such an innocent and easy to be controlled by a particular party?

The evidence that Jokowi openly involve KPK when fixing the minister candidate names should also be seen an answer for everything. In fact, he actually could ask for KPK's recommendations secretly.

Jokowi instead chose to publicly announce the eight candidates for ministers who were red lighted by KPK. By making it widely open to the public, practically, Jokowi close the space for those who were disappointed to fight back. Whoever against it, meaning they are pro corruption. It’s as simple as that.

As a result, the strategy puts Jokowi to have a trump card to resist pressure from any party. If the scenario is true, then Jokowi is intelligent enough to fight back smoothly.

So what about the election of the Attorney General or Chief of Police? Why did Jokowi become a lick-spittle by not involving the KPK?

The answer could be two. First Jokowi is applying a double standard. Secondly, the power who want to control the government has been learned from the case of ministerial selection. That means there might be a pressure to Presidential Palace for no longer involve KPK.

As a result, the selection procedure of Attorney General and Chief of Police were done in a closed door. What was clearly legible to the public, the selection of the Attorney General initiated by the arrival of Chairman of Nasdem, Surya Paloh to the Palace. This time Paloh came to the Palace not Teuku Umar Street, but the Presidential Palace.

After Paloh visit, Nasdem politician, HM Prasetyo, elected as Attorney General of the Republic of Indonesia. Practically, the appointment of the Attorney General attracted severe public criticism for Jokowi.

But uncharacteristically, Jokowi choose to be reluctantly talkative. The same thing was happened on Chief of Police candidate selection. Without any too much fanfare, the name of Budi Gunawan (BG) submitted to the House of Representatives (DPR). In the midst of the silence, the confidential nomination letter of BG circulated publicly. The question is who leaked the secret letter?

The answer is just pursed into two parties. The first is DPR as the purpose of the letter was sent. Secondly, it might be actually leaked by the Palace itself the side that makes the letter.

Clearly, the consequences of making it widely circulated, public including KPK, immediately knew the name of Police Chief Candidates. On the other hand, immediately, one of the social media activists known as Jokowi's volunteer said that Jokowi was coerced to file Police Chief Candidate name by 'the Palace' at Teuku Umar.

In the midst of the controversy, new surprises emerge. KPK directly names the police chief candidate as corruption suspect. Naming the candidat as a suspect was done a day before the process of feasibility and appropriateness test in DPR.

Along with it, the KPK explained that from the eight minister candidates who had been recognized by Jokowi to be red lighted, there was BG name. KPK's statement stirs new question. Does it make sense, when Jokowi choose his own candidate for Police chief, from a list which ever been refused as a minister?

The circuit is ultimately converging on a way that could make Jokowi to cancel BG as Police chief candidate. If the volunteer statement was true about coercion for Jokowi, the Palace now has a chance to reestablish its dignity. Because the National Palace is only one and its located at Jalan Merdeka, not Jalan Teuku Umar.

This article originally appeared in : Jokowi, Mega, and KPK | republika.co.id | by Abdullah Sammy | Wednesday, 14 January 2015, 18:03 WIB

READ MORE - Jokowi, Mega, and KPK

Jermaine Jackson Changes Surname To Jacksun


Jermaine Jackson has changed his surname to Jacksun - but denies it has anything to with a recent rift in his family.

He said he sought the name change for "artistic reasons", not because of a dispute over the care of Michael Jackson’s children and family matriarch Katherine Jackson.

"To him, it's no big deal. It's for artistic reasons. It's changing one letter to put in something bright and positive. Phonetically, it's still the same. I don't think he'll be changing it as often as (Sean) P Diddy (Combs)," friend Steve Dennis previously told the New York Daily News.

Jermaine Jackson Changes Surname To Jacksun
Jermaine Jackson Changes Surname To Jacksun 

A Los Angeles judge approved Jacksun's name change.

The 58-year-old, who shared lead singing duties with his younger brother Michael in The Jackson 5, did not appear in court.

His lawyer, Bret D Lewis, said the singer was performing in Sweden with his brothers and did not know whether he would comment further on the creative reasons for the change.

After briefly going to war with the executors of Michael's estate last summer, Jermaine has been touring with brothers Tito, Marlon and Jackie as well as promoting his book You Are Not Alone.

This article originally appeared in : Jermaine Jackson Changes Surname To Jacksun | Sky News | Mon, Feb 25, 2013

READ MORE - Jermaine Jackson Changes Surname To Jacksun
Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More