Kalau kita tak peduli pada kehidupan kita sendiri, lantas siapa lagi yang peduli?




Politik itu kotor, kata banyak orang. Karena politik itu kotor, maka lantas dijauhi. Dianggap hanya permainan orang-orang yang haus kekuasaan. Padahal kekuasaan adalah keniscayaan dalam kehidupan. Tiap jenjang kehidupan kita mulai dari RT, RW sampai negara; membutuhkan kepemimpinan atas kekuasaan.

Politik adalah upaya mencapai posisi kepemimpinan. Tanpa politik tidak ada kepemimpinan. Tanpa kepemimpinan maka yang terjadi adalah situasi chaotic. Saya haqqul yakin bahwa kita semua lebih nyaman untuk berpolitik daripada membiarkan terjadinya situasi chaotic.

Kalau kita tak peduli pada kehidupan kita sendiri, lantas siapa lagi yang peduli?

Bahwa dalam politik ada saling sikut, itu adalah ekses. Namun bukan hakikat dari politik itu sendiri. Saling sikut juga terjadi dalam bisnis, pekerjaan, upaya masuk perguruan tinggi favorit, mungkin juga ketika kita naksir calon pacar kita belasan tahun lalu. 

Yang pasti adalah ekses yang terjadi dalam politik, nyatanya terjadi dalam bidang kehidupan yang lain. Fokus untuk mencapai hakikat dalam suatu bidang kehidupan niscaya lebih mulia, daripada sekedar menghindari eksesnya.

Lantaran itu kita tak perlu alergi sama yang namanya politik. Politik itu adalah kehidupan itu sendiri. Masak iya kita alergi sama kehidupan?

Buta Politik

Seorang penyair Jerman, Bertolt Brecht, memberikan perspektif yang menarik soal alergi politik ini. Ia bahkan memberikan istilah yang radikal, buta politik. Ia mengatakan bahwa,:
"Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik..Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang,harga ikan, harga tepung,biaya sewa, harga sepatu dan obat; semua tergantung pada keputusan politik...Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik...Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar,dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk,rusaknya perusahaan nasional dan multinasional"
Dalam khazanah pemikiran nasional, Mohammad Natsir mengatakan pada tahun 1990-an,:
"Kalau memang saudara-saudara merasa tidak perlu ikut berpolitik, biar tidak usah berpolitik. Tetapi saudara-saudara jangan buta politik. Kalau saudara-saudara buta politik, saudara akan dimakan oleh politik"
Peduli Politik

Berpolitik adalah pilihan. Ini menyangkut bakat, minat dan gairah yang berbeda antar individu. Namun buta politik mutlak harus dihindari. Karena politik menyangkut berbagai segi kehidupan kita. 

Kita tak bisa menyerahkan begitu saja pengaturan kehidupan yang diputuskan secara politik, pada mereka yang secara sadar berpolitik.

Apabila buta politik dianggap satu titik dan berpolitik adalah titik pada ujung yang lain, maka jalan tengahnya adalah peduli politik. 

Peduli politik adalah 
ketika kita senantiasa memantau isu-isu politik dan masalah kebangsaan, untuk kemudian menyuarakan aspirasi pada persoalan-persoalan yang kita pahami
Untuk itu tak perlu kita menjauhi politik. Kita justru harus menghimpun diri secara sadar, untuk tetap terhubung dengan politik. Partisipasi politik kita berlandaskan kepedulian. Kepedulian atas kehidupan kita dan kebaikan bersama (common good) Kalau kita tak peduli pada kehidupan kita sendiri, lantas siapa lagi yang peduli?




No comments:

Post a Comment