Tragedi Intel Banteng di Rumah Tuhan




http://cdn.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2014/06/09/379090/670x335/intel-banteng-di-rumah-tuhan-intel-masjid-1.jpg

Tragedi Intel Banteng di Rumah Tuhan - Kabar menghebohkan itu muncul Kamis dua pekan lalu. Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jakarta Timur William Yani menginstruksikan para kader dan pendukung pasangan Joko Widodo - Muhammad Jusuf Kalla beragama Islam memantau isi khotbah Jumat di masjid-masjid.

"Ketua dpc PDIP jaktim instruksikan khusus kepada kader dan pendukung#JKWJK yang muslim untuk salat jumat besok dan memantau penceramah jumatan," begitu kicauan William melalui akun Twitter @news_pdip. William merupakan legislator terpilih PDIP untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta. 

Sontak kicauan William memancing komentar dari pengguna Twitter. "Segitu takutnya kah jokowijk lewat @newspdip menginstruksikan agar memantau khotbah jumat?," tulis Aldi El Gustian melalui akun @aldiel. "Wahai bung @newspdip kau lebih parah dari orba, kenapa gerakan umat kau larang. Takut kekuasaanmu hilang?"

Merdeka.com mencoba menelusuri akun @news_pdip Senin pekan kemarin. Namun akun ini sudah tidak aktif. William menolak berkomentar ketika dihubungi melalui telepon selulernya Jumat minggu lalu. Dia beralasan, "Saya sedang melawat," kata Yani.

Mendengar ramai pemberitaan instruksi mengawasi masjid, Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP Bidang Kerohanian dan Kebudayaan Hamka Haq buru-buru memberikan penjelasan. Dia menyesalkan pemanfaatan masjid oleh pihak tidak bertanggung jawab. 

Dia menegaskan masjid harus tetap dijaga sebagai tempat pencerahan dan ibadah. "Maksud kami agar masjid tetap sebagai rumah ibadah suci dan tidak dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk memecah belah umat," kata Hamka melalui keterangan tertulis diterima wartawan merdeka.com Muhammad Sholeh.

Hamka menyatakan isu merebak itu adalah fitnah menyudutkan citra PDIP sebagai partai menjunjung tinggi semangat kehidupan berdemokrasi di Indonesia. Dia mengatakan PDIP justru menjadi korban operasi khusus intelijen.

Hamka boleh saja membantah soal adanya instruksi ketua DPC PDIP Jakarta Timur William Yani kepada kadernya untuk mengawasi khotbah Jumat. Namun jauh sebelum isu ini bergulir, seorang ustaz berinisial SN alias Ocep dilaporkan ke Markas Kepolisian Resort Bandung. SN dituding memfitnah lewat khotbah Jumat karena menyebut calon presiden Joko Widodo antek Yahudi.

Adalah Koordinator Gerakan Indonesia Hebat Kabupaten Bandung Decky Hisyanto melaporkan SN pada 25 April lalu. "Ya itu meresahkan, harusnya masjid tidak menjadi politik," ujar Decky saat dihubungi melalui telepon selulernya Selasa pekan lalu. 

Decky adalah kader PDIP dan menjabat anggota Badan Pemenangan Pemilu PDIP Jawa Barat. Selain menyebut Jokowi sebagai antek Yahudi, Ustad SN dituduh menjelekkan Prabowo Subianto, kandidat presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya. "Prabowo juga disebut tapi saya tidak tahu persis," tuturnya.

Decky mengaku tidak ada instruksi dari partainya untuk mengawasi masjid. Dia mengatakan pelaporan itu murni niat dari masyarakat Desa Penyadap, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. "Saya hanya mengantarkan saja sekaligus melapor," katanya. Saat ini kasus dugaan fitnah lewat khotbah Jumat itu masih dalam penyelidikan oleh Kepolisian Resor Bandung.

This article originally appeared in : Intel Banteng di rumah Tuhan | merdeka.com | Reporter : Arbi Sumandoyo | Senin, 9 Juni 2014 09:03




No comments:

Post a Comment